Selasa, 18 Mei 2010

SUPER HEROES

SUPER HEROES

Oleh Arif Bagus Prasetyo


Pameran Superhero berangkat dari art project yang dimulai pada tahun lalu, ketika sejumlah pelukis muda diundang oleh Hanna Art Space untuk menciptakan karya bertema superhero. Proyek ini dimulai dengan pertanyaan sederhana yang dilontarkan kepada para pelukis terundang: apa makna superhero bagi mereka? Apa yang mereka bayangkan dan pikirkan saat mendengar istilah “superhero”? Para pelukis diminta memberi jawaban secara visual, dalam bentuk lukisan. Mereka dipersilakan melakukan penafsiran personal kreatif sebebas-bebasnya terhadap makna superhero. Mereka bebas merepresentasikan apapun yang menurut mereka relevan dengan wacana superhero. Para pelukis boleh terbang bebas di langit imajinasi masing-masing, menggagas dan berbicara apapun tentang superhero.

Proyek pameran ini sejak awal memang tidak mematok pengertian tertentu tentang istilah “superhero”. Justru sebaliknya, proyek ini menantang para pelukis agar berani membuka perspektif yang lebih luas dan menawarkan gagasan yang lebih segar perihal apa dan bagaimana superhero itu. Tujuan utama proyek seni rupa ini adalah eksplorasi kreatif terhadap superhero sebagai salah satu fenomena budaya massa yang memiliki daya pesona mendunia pada era kontemporer.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Richard Reynolds dalam bukunya, Super Heroes: A Modern Mythology, figur populer yang dikenal sebagai superhero telah menjadi sosok yang tampil mencolok dalam arus-besar (mainstream) budaya modern. Superhero menghunjamkan pengaruh yang kuat dan makin besar pada masyarakat, moralitas dan politik. Begitu hebatnya pengaruh itu, hingga superhero seolah menjelma jadi mitologi modern. Mitos superhero berkembang-biak dan menyebar-luas dalam kebudayaan masa kini di muka bumi. Kajian Reynolds berpijak pada kehadiran superhero dalam sejarah buku komik di Amerika Serikat, yang telah mengorbitkan kreasi manusia-super sebagai simbol yang dimensi-dimensinya berhasil memuaskan tuntutan dan harapan khalayak ramai.

Pada umumnya, superhero didefinisikan sebagai tokoh rekaan, terutama dalam komik atau kartun, yang dianugerahi kekuatan luar-biasa atau kemampuan adikodrati untuk melindungi masyarakat dari bahaya dan kejahatan. Kata “superhero” sendiri sudah muncul setidaknya sejak 1917. Semenjak tokoh Superman muncul untuk pertama kalinya pada Juni 1938 dalam Action Comics 1 dan berhasil merebut hati publik, berbagai kisah superhero menguasai dunia perkomikan Amerika dan kemudian menyerbu media-media lain, misalnya film. Secara khusus, “Super Hero” dan “Super Heroes” adalah cap dagang yang dimiliki oleh DC Comics dan Marvel Comics, dua penerbit buku komik terkemuka Amerika yang memegang hak paten atas sebagian besar tokoh superhero yang paling kondang, paling berpengaruh dan mendunia.

Definisi umum superhero sebagai karakter komik Amerika tampak pekat membayangi sembilan perupa muda yang terlibat dalam Pameran Superhero: Gede Darmawan, Gusti Made Adi Kurniawan, Gusti Made Mahardika, Komang Agus Dharma Putra, Komang Sedana Putra, Komang Suarnata, Wayan Linggih, Made Somadita dan Ida Bagus Tilem. Karya mereka kebanyakan menampilkan tokoh-tokoh top superhero komik Amerika, seperti Superman, Batman, Spiderman, Hulk dan lain-lain. Karakter-karakter superhero Amerika ini dicitrakan secara “realistik” (sesuai gambaran orisinal superhero dalam komik atau film), atau direpresentasikan secara simbolis (dengan menampilkan lambang superhero tertentu, misalnya huruf “S” untuk Superman atau bentuk kelelawar untuk Batman), atau diparodikan. Pencitraan realistik mendominasi kanvas Gede Darmawan, representasi simbolis menjadi pilihan banyak pelukis, sedangkan parodi merajai karya-karya Komang Agus.

Karakter komik non-Amerika hanya muncul pada lukisan “Sweet Dream” karya Sedana Putra, yang menampilkan figur kartun Doraemon dari Jepang. Tokoh Doraemon sebenarnya sama sekali bukan superhero Jepang. Meskipun komik Jepang sangat populer di Indonesia, para pelukis ternyata tidak berminat mengangkat superhero Jepang, seperti Ultraman atau Ksatria Baja Hitam, dalam lukisan mereka. Sementara itu, tokoh fiksi tradisional Indonesia juga terlihat sekilas saja pada karya Adi Kurniawan (“Ice Super Cream”) dan Made Mahardika (“Help Bali”), yang menyelipkan tokoh pewayangan Gatot Kaca di antara para superhero mancanegara.

Patut dicatat, hubungan genetis antara superhero dan komik hanya tampil secara eksplisit pada lukisan Wayan Linggih (“Pahlawanku Tak Pernah Muncul”), yang memotret sosok lelaki setengah-tua sedang asyik menikmati komik Superman. Karya Linggih ini seperti menegaskan bahwa komik, yang sering dilecehkan sebagai hanya cocok untuk anak-anak dan kalangan semibuta-aksara itu, memiliki daya-tarik sangat besar hingga mampu menghipnotis orang dewasa. Dalam kata-kata Reynolds, “Diciptakan sebagai pahlawan buku komik, mereka [superhero] semakin dikenal luas melalui televisi, film dan (dalam kasus Batman dan Superman) lewat penampilan segar dalam budaya populer Amerika dan Eropa, yang memastikan kehadiran mereka disimak oleh jutaan orang yang belum pernah membaca komik Batman atau menonton film Superman.”

Di luar tokoh fiksi superhero, para perupa mengetengahkan figur-figur dari dunia nyata: pahlawan bangsa dan tokoh nasional (Sukarno dan Gus Dur dalam karya Komang Agus), kumpulan tokoh dunia (“Hero of The World” karya Adi Kurniawan), bahkan sosok ibu sang pelukis sendiri (“Wonder Woman” karya Made Mahardika). Membayangkan superhero, imajinasi para perupa juga melayang kepada sosok konyol pak guru SD Negeri (“Bukan Pahlawan Super” Komang Agus), tentara dan Garuda Pancasila (karya Komang Suarnata), flora (karya Tilem), dan fauna (karya Somadita). Lukisan Somadita, yang menampilkan adegan pertarungan berebut bola antara harimau dan banteng, sayup-sayup menggemakan alusi historis terhadap karya pelukis legendaris Raden Saleh. Sang Pelopor Seni Rupa Indonesia Modern juga dikenal suka melukis drama pertarungan yang melibatkan binatang buas, termasuk macan vs. banteng.

Menjadikan superhero sebagai subjek karya lukis tentu bukan sesuatu yang baru. Tokoh superhero sudah tampil dalam karya seni rupa bersama merebaknya Pop Art di Amerika Serikat pada awal dasawarsa 1960-an. Sebutlah, misalnya, karya Richard Pettibone berjudul “Flash” (assemblage in box, 1962-63) yang menampilkan figur superhero Flash, atau lukisan Mel Ramos bertajuk “Photo Ring” (oil on canvas, 1962) yang mengusung tokoh Batman. Ramos, sebagaimana dicatat oleh Nancy Marmer dalam esai “Pop Art in California”, “melukis para pahlawan dan pahlawati kawakan buku komik – Batman, Crime Buster, dan Glory Forbes-Vigilante – dengan niat tersurat untuk merayakan mereka secara langsung.” Sementara di Tanah Air, banyak perupa kontemporer pernah melukis tokoh superhero, terutama Superman. Salah satunya yang terkenal adalah Dede Eri Supria. Ketertarikan perupa Indonesia kepada superhero tidak terlepas dari kecenderungan utama seni lukis kontemporer yang menghidupkan-kembali, memperdalam dan memperluas khazanah Pop Art.

Dalam pameran ini, tafsir para perupa terhadap tema superhero sebagian besar bersandar pada penggalian kekuatan tanda-tanda melalui alegori dan apropriasi. Tokoh-tokoh superhero pada karya mereka adalah citra alegoris, yang tak lain hasil apropriasi terhadap figur superhero orisinal yang dirujuk. Para pelukis mengklaim citra superhero yang telah mapan secara kultural sebagai miliknya sendiri, dengan cara mengubahnya jadi sesuatu yang lain, baik di tataran bentuk maupun, terutama, isi. Mereka seolah mencabut sang superhero dari habitat semula, lalu melepasnya di lingkungan baru yang sepenuhnya dikontrol oleh perupa. Para pelukis tidak menghidupkan makna orisinal yang dimiliki oleh sang superhero, melainkan membubuhkan makna baru pada citranya. Makna baru ini bisa memperkaya, menyelewengkan, atau malah meniadakan makna yang semula melekat pada citra superhero. Pendek kata, mereka melakukan dekonstruksi makna superhero.

Melalui alegori dan aprosiasi, para perupa memanfaatkan citra superhero untuk berbicara tentang perkara-perkara yang menjadi pemikiran maupun keprihatinan personal masing-masing. Tokoh-tokoh superhero pilihan Gede Darmawan mempromosikan kesadaran ekologis. Paham cinta alam juga tersirat dari karya-karya Tilem. Kritik environmentalis yang nyaring disampaikan Made Mahardika dalam karya “Biarkan Tetap Hijau”, dengan menabrakkan panorama alam gersang dan citra logam industri. Kritik tentang dampak perubahan sosio-kultural yang melanda Bali diutarakan oleh Sedana Putra (“Transformasi Bali”) dan Made Mahardika (“Help Bali”). Karya-karya Komang Suarnata yang bercorak grafiti meyodorkan semacam perlawanan subaltern terhadap ideologi dominan dan nalar kekuasaan yang sarat kekerasan. Dengan senjata parodi yang menyengat, Komang Agus menjungkirbalikkan citra unggul superhero untuk melontarkan komentar sosial-politik kritis kontekstual.

Demikianlah, para perupa peserta Pameran Superhero menawarkan reinterpretasi makna superhero dengan berpijak pada medan permainan tanda-tanda yang merupakan ciri khas praktik seni rupa kontemporer. Karya mereka kiranya dapat menjadi semacam seismograf kultural untuk mengukur sejauh mana getaran mesin industri budaya populer global memasuki ruang-ruang imajinasi kalangan generasi muda kreatif dan terpelajar di negeri kita.

Jumat, 19 Maret 2010

"BALI FROM BEYOND"

21st Century’s International Artists in Bali

by Arif Bagus Prasetyo


The World of fine arts in Bali has characteristic. It is one of the directions of fine arts in Indonesia. It stands among few main cities in Java, known as centre of Indonesia’s fine art developments; like Yogyakarta, Bandung, and Jakarta. One of the common phenomenons is where tradition of fine arts in Bali makes it as centre of International artists. They come to this island of Gods, to gain creative energy and get their inspiration through direct communication with nature and tradition of Bali, as residence or just visitors.


Already for sometimes, Bali is known all around the World as tropical paradise with mystical aura. Balinese culture with various rituals, the friendly people, and beautiful nature, makes Bali rich. These attracted the foreign visitors to come and visit the island. Among those visitors, are artist. Some of them stay in Bali for only few days, but some others keep on coming back to Bali many times, even ended up residing in the island. The International artists created art works, with Bali as their inspiration. It formed and playing an important role, as well as speaks about the image of Bali.


From the colonial era up to now, the enhancement of Bali still attracts International artists to dig inspiration, work, and publicize artworks in this island. From time to time, fine arts in Bali rang by the existence of International artists; from the generation of Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Donald Friend, Willem Gerard Hofker, Theo Meier and Han Snel in the beginning of 20th century up to this 21st century; high tech era. Even there is no clear or accurate data available, there were and still are International artist who supported and still supporting Bali as base of long creativity.


Several International artists commemorated as pioneers to modern fine arts World in Bali. Rudolf Bonnet and Walter Spies in 1927 changed the face of fine arts in Bali, which in previous decades only served the function and means of religious communal. They introduced secular theme, modern Western technique, and individual modern conscious creativity to local artists in Bali. Other important personage is Arie Smit, which in the 60’s led a group of young artists in the village of Panestanan, Ubud, and in the end born out a naïf motif of art with such characteristic, under the flag of “Young Artists”.

Amazement of International artists towards Bali, mostly sourced from public’s view, which dominated that Bali is paradise in the World, with the artistic people and very religious life, living in harmony together with nature and other human beings. Romantic image and the exotic of Bali received a wide acceptance from end of 1920’s decade, when colonial power of the Netherlands reached the peak and restored “tradition” of Bali, which was central strategy of conservative colonials of the Netherlands. Mainly in 1920’s and 1930’s, experts in the anthropology, linguistic, archeology, and theology fields, started to come to Bali and organize high tech portrait about the island of Bali as “The Last Paradise.”


Various image of beautiful Bali as paradise, become public menu in a journey literature, fine arts books, as well as in travel brochures in 1920’s and 1930’s. Back then, Bali is paradise to many International tourists, including the artists whom escaped themselves from their modern Western life that they thought was penurious With their eyes, thoughts, and attracted feeling towards Bali with all its mythological image, International artists come one after another to Bali to work. When over seeing it, they think Bali as a rich source with unique and attractive visuals. The natural panorama of Bali; beautiful, mystical, unique people, and tradition, are image of Bali that are known Worldwide and become artwork’s favorite subject by International artists who comes to Bali.


Fine art exhibition of Bali from Beyond present artworks of International crossed generation artists in Bali. Majority of them are currently works actively. In this exhibition, image of exotic nature, culture, and people of Bali, no longer dominated in the presented works. This image only seen on the work of Rudolf Bonnet, Arie Smit and Han Snel, who are noted as the old generation artists. New generation’s artists bring out the romantic and exotic feature on artwork of Paul Moran and Shan F. Clergue. Paul Moran explored magic nature and the beauty of Balinese people; especially woman’s body. Figure of Balinese woman on artworks of Shan F. Clergue stroked out nostalgic view about pure, natural, and mystical of Bali.

Several artists now commonly presented works with “exotic’s spiritual” and replaced “exotic’s nature – tradition of Bali” as subject of creative exploration. They adventured dimensions behind nature and tradition phenomenon of Bali. Marck Jurt, Pieter Deiman and Patrick Okorokoff expressed spiritual strengths that gives charisma of Bali. Keiji Ujie and Tineke Vermeer developed a trembling cosmic energy on their sculpture works, inspired from nature and life in Bali.


Majority of artists involve in this exhibition, tends to inspire Bali as a form of sanctuary; special zone with aura that able to intensively search out creativity in their own path. They reside and work in this island, but still focuses on personal themes that does not directly adopted life in Bali. Their spiritual creativity influenced by the artistic nature and tradition of Bali, but they do not just visually record about Bali from Westerner’s point of view.

Please view several artworks from this exhibition. Piet Nuyttens captured his memory of the life of Papua people. Razceljan Salvarita revitalized various patterns from the base of traditional fine arts. Skjoldvor Margareta Wiseth centralized her attention of formal expression in shape and color. Bruce Sheratt dived into the fantastic phantasmagorias. Linda Buller structured and organized visual naïf narration from her imagination and spontaneous expression. Michael Chesney interrogated dramatic changes in visualizing this digital technology era.

Other artist does not only work outside their path of the romantic and exotic image of Bali, but blows creative idea, outside their classic paintings and sculptures. Anja Zwanenburg and Stephan Max Reinhold present artistic photography that was processed using digital technology equipment. Emilie Sermet present “digital painting” with abstract motif which was fully worked on, off the computer. Stephen William Barwell present book that contained bunch of poems, where he explored flexible relations and experienced between image and texts.


Bali from Beyond exhibition would like to show that Bali in this 21st century remains to be attracting and inspiring to many International artists. Those International artists who work in Bali does not only continue the historical tradition which once created by those from the past, but at the same time to fruit a new inspiring path of creative development. By putting side by side the artworks of old and new generation, this exhibition reflects the progress movement of International artist’s vision, who are here to visit and work in Bali. This is the indication on changes of Bali in Westerner’s point of view, together with realistic changes on Bali itself.

Senin, 11 Januari 2010

REBORN - Bambang Adi Pramono

Seni Patung Bambang Adi Pramono

SETELAH TIGA DASAWARSA

Oleh Arif Bagus Prasetyo

BAMBANG Adi Pramono adalah perupa kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur, 1955, yang telah lebih dari dua puluh tahun bermukim di Bali. Ia lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan sempat menjadi dosen di almamaternya. Pekerjaan sebagai tenaga pengajar di kampus kemudian ditinggalkan, karena ia lebih tertarik menekuni karier profesional sebagai pematung, juga desainer dan konsultan desain di berbagai proyek. Bambang, antara lain, pernah bertahun-tahun menjadi desainer, konsultan dan instruktur program pembinaan kerajinan di berbagai daerah di Indonesia Timur. Sebagai konsultan dan desainer pula, ia pernah terlibat dalam renovasi “Indonesia Pavilion Expo Garden Kunming, China”; dan pembangunan “Monumen Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Sumatera Utara” di Medan, Sumatera Utara. Sementara sebagai pematung, salah satu karyanya yang menonjol adalah “Monumen I Gusti Ngurah Rai” di kawasan Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Sebagaimana dimaklumkan oleh judulnya, Pameran “Reborn” seolah menandai kelahiran kembali Bambang sebagai insan kreatif. Betapa tidak. Setelah absen sejak 2004, baru tahun kemarin karya patung Bambang kembali tampil di sejumlah pameran bersama. Untuk pameran tunggal, masa absen Bambang bahkan lebih lama. Pameran tunggal perdananya berlangsung pada 1981, hampir tiga dasawarsa silam. Baru sekarang ia berpameran tunggal lagi.

Tak syak lagi, kesibukan Bambang melayani permintaan pihak lain selama bertahun-tahun membuatnya tidak punya banyak kesempatan menciptakan karya-karya idealis yang semata-mata mengejar visi kreatif personal, sehingga ia harus ambil cuti panjang dari ruang pameran. Bekerja sebagai desainer maupun pematung dalam berbagai proyek pesanan, Bambang tentu tak bisa sepenuhnya bebas berkreasi. Ada kemauan, kepentingan dan standar kualifikasi dari pihak lain yang mesti dipatuhi, atau setidaknya diperhitungkan atau dinegosiasi. Ia tak mungkin mengekspresikan rasa dan karsanya sendiri secara total dan murni kreatif.

Pameran “Reborn” mengetengahkan karya-karya patung mutakhir Bambang yang, tentu saja, diciptakan sebagai ekspresi kreatif murni. Tanpa dibebani misi dan persyaratan yang dipatok pihak lain, Bambang mengejar misinya sendiri sebagai seorang seniman patung yang berkuasa menentukan syarat-syaratnya sendiri. Ia leluasa mengarungi langit imajinasi untuk memburu ilham kreatif, bergumul dengan konsep dan gagasan ideal, merumuskannya dalam rancang-bangun yang bebas dari agenda pragmatis, mewujudkannya sesuai standar kualifikasi yang ditetapkan sendiri, bahkan terjun langsung dalam proses produksi yang tak jarang melibatkan eksperimentasi.

Tak heran, karya-karya Bambang dalam pameran ini memancarkan semangat eksplorasi yang didorong oleh energi kreatif yang mengalir deras. Daya cipta yang terbendung selama tiga puluh tahun terakhir seolah menemukan kanal-kanal pelepasan kreatif, dan menubuh dalam bahasa artistik trimatra yang kaya makna dan ungkapan. Bambang bergulat dengan aneka pemikiran dan rangsang intuisi kreatif, lalu memahat kayu atau menempa logam, dua bahan utama karya patungnya.

Sebagian besar proses produksi karya memang dikerjakan oleh tangan Bambang sendiri, termasuk untuk patung-patung berbahan logam. Bambang mengaku sangat menikmati kerja fisik yang cukup berat dalam penciptaan patungnya, misalnya menempa logam atau mengolah permukaan logam, sampai ia puas dengan hasil akhirnya. Dalam proses kerja ini ia tidak sekadar membangun suatu konstruksi, melainkan juga bereksperimen, menjajal kemungkinan-kemungkinan yang muncul, menemukan efek-efek tak terduga yang berbeda antara satu patung dan patung lain. Sebuah proses yang tentu menambah nilai otentik dan eksklusif pada karyanya. Bambang terlahir kembali sebagai kreator yang mencipta, bergerak mewujudkan kreasi pribadi dan otonom, di tingkat konseptual maupun praksis. Reborn.

Bambang berkarya dengan menggunakan material konvensional: logam dan kayu. Namun bahan-bahan konvensional itu digarapnya secara kreatif, justru untuk menghadirkan ekspresi yang inkonvensional. Karya-karya mutakhir Bambang menyiratkan suatu idealisme untuk mereformasi citra populer tentang seni patung, dan lebih jauh lagi, meredefinisi hakikat patung. Sejumlah patung yang dipamerkan tampak menantang persepsi umum tentang apa yang lazimnya disebut sebagai “patung”. Lihatlah, misalnya, patung berwujud seonggok tangan yang terputus pada lengan (“Dejected”), lilitan bilah silindris aluminium (“Life Begins”), atau imitasi sepotong bagian berukir dari rangka rumah tradisional Jawa (“Heritage”). Bahwa patung tidak mesti berdiri atau berbaring, tapi bisa juga melayang atau menggelantung (“Dragon Mouth”, “Hanging Nest”). Bambang terkesan mengupayakan hadirnya suatu struktur, proporsi dan energi ekspresif yang baru. Ia menjelajahi kemungkinan-kemungkinan ekspresif baru yang mampu menempung kegelisahan kreatifnya sebagai seniman patung kontemporer. Dengan kepekaan artistik dan kekuatan gagasan yang dimilikinya, Bambang memperluas pengertian tentang “patung”.

Dalam karya-karya mutakhir Bambang, prinsip kestabilan desain, yang biasa melekat pada konstruksi monumen atau patung konvensional, seringkali digantikan dengan pencarian suatu kesetimbangan baru yang rawan. Ada kesan rawan yang membersit dari struktur-struktur trimatra yang rata-rata bertengger pada batang penyangga kecil. Melihat konstruksi patung “Heritage” atau “Dragon Mouth” yang seolah menyangkal hukum gravitasi, misalnya, muncul kesan bahwa kesetimbangan sajalah yang menahan patung-patung itu dari keambrukan. Kerawanan jenis lain diperagakan oleh patung “Torso”. Sepasang torso “kembar siam” yang bervolume cukup besar dalam karya ini nyaris tidak menyatu, hanya seperti menyerempet satu sama lain. Sebagai tambahan, “suasana rawan” kadang juga mengemuka secara tematis, misalnya dalam karya “Kekayon II: Rhythm in Chaos” yang menggemakan kerawanan sosial, atau karya “Love Wave” dan “The Last Summer” yang menggaungkan kerawanan ekologis.

Dalam mengonstruksi patung, Bambang tak segan-segan menangani ruang kosong sebagai elemen yang sama pentingnya dengan volume. Ruang sekitar dapat menembus atau meresapi massa pejal, menjadi bagian integral dari konstruksi keseluruhan sebuah patung. Rongga atau celah bukan sekadar areal kosong, melainkan juga “wujud” yang sama validnya dengan wujud patung itu sendiri. Eksplorasi spasial dengan prinsip “patung menembus ruang dan ruang menembus patung” tampak jelas dipraktikkan dalam karya-karya yang memainkan rongga seperti “The Muscle”, “Dragon Heart” dan “Reach It”. Dalam karya-karya semacam ini, praktis tak ada lagi batas yang tegas antara patung dan ruang kosong di sekitar patung.

Salah satu daya-tarik karya patung Bambang terletak pada tegangan dinamis antara unsur formal dan unsur diskursif, aspek stilistik dan aspek tematik, wujud dan pesan. Di sini gagasan berperan sangat penting, baik gagasan di ranah rupa maupun di ranah wacana. Hampir semua karya Bambang mengusung tema tertentu yang digali dari pengamatan dan pemikirannya tentang berbagi fenomena alam dan kebudayaan. Dalam niat kreatif Bambang, kayu atau logam nyaris tidak pernah berhenti sebatas wahana ekspresi murni, sarana manifestasi keindahan ideal belaka. Hampir selalu ada “narasi” di balik bentuk-bentuk artistik trimatra kreasi Bambang. Namun demikian, “narasi” ini tidak selalu transparan, bahkan kadang tidak terbaca secara visual, karena kuatnya interupsi pertimbangan-pertimbangan artistik formal.

Ambil contoh karya “Reach It” dan “Life Begins”. Tanpa membaca judul, pemirsa kemungkinan besar akan sulit menangkap pesan kehidupan yang ingin disampaikan Bambang dalam kedua patung itu, dan mungkin hanya memaknainya sebagai bentuk-bentuk patung abstrak eksperimental. Contoh lain, pada karya “The Muscle”, “narasi” bahwa patung ini diilhami oleh serat-serat otot (sebuah gagasan yang orisinal!) menjadi kurang berarti dibanding efek artistik yang muncul dari alunan ritme permukaan dan logika visual formal. Sementara pada karya “Torso”, citra tubuh manusia seakan lebur dalam sensasi gerak dari resonansi antara gelombang permukaan kayu dan riak-riak tekstur kayu. Patung berbentuk manusia ini jelas tidak mengangkat isu kemanusiaan.

Dalam karya-karya Bambang, gagasan di ranah rupa tampak cenderung lebih dominan daripada gagasan di ranah wacana. Tapi bukan berarti Bambang kurang memiliki perhatian terhadap isu-isu di luar persoalan rupa. Sejumlah karyanya yang menampilkan mimesis alam (misalnya patung berbentuk tumbuhan, pohon atau sarang burung) mengungkapkan pesan ekologis yang kuat. Kepekaan sosial tentang zaman yang kian akrab dengan kekerasan dan kekacauan diungkapkan secara simbolis dan dramatis dalam karya “Kekayon II: Rhythm in Chaos”; sementara karya “Heritage” menyuarakan keprihatinan tentang ancaman kepunahan warisan budaya tradisional. Kritik terhadap seksualitas pada zaman kontemporer, ketika seks telah terhalau dari ruang sakral dan bisa dinikmati dengan enteng bak hidangan pencuci mulut, disampaikan dengan nada humor dalam karya “Dessert”. Kekuatan gagasan Bambang di ranah rupa memberikan perspektif segar dan aksentuasi unik pada gagasannya di ranah wacana.

Dalam pameran ini, peragaan paling menarik dari paduan kekuatan gagasan rupa dan wacana terdapat pada serial patung naga. Berangkat dari keterpesonaan kepada Cina saat berkunjung ke sana beberapa tahun silam, Bambang mengeksplorasi sosok naga yang menyimbolkan spirit kultural masyarakat negeri Tirai Bambu yang mampu bangkit sebagai bangsa besar di muka bumi. Tapi uniknya, Bambang tidak menciptakan patung naga dengan mengacu pada gambaran umum tentang makhluk mitologis ini, melainkan mengolah elemen-elemen karakteristik naga (terbang, bergerigi, bertaring atau bercakar dsb) hingga menjelma jadi citra naga yang baru dan orisinal. Bentuk hati atau jantung naga (“Dragon Heart”), mulut naga (“Dragon Mouth”) atau penis naga (“Dragon Penishhh…”), besar kemungkinan tak pernah terbayangkan oleh siapa pun sebelum dilahirkan oleh imajinasi kreatif Bambang. Patung-patung “naga” karya Bambang meramu memori dan fantasi, mengawinkan model mitologis purba dan model rekayasa canggih (bahkan futuristis seperti karya “Dragon Mouth”), memadukan spiritualitas dan materialitas. Ke depan, serial patung naga Bambang masih sangat menjanjikan untuk dikembangkan lebih jauh.


Selasa, 17 November 2009

Art(i)culation

Pameran Seni Rupa


Judul pameran : art[i]culation
Tanggal : 12 Desember 2009 - 12 Januari 2010

Tempat : Hanna Artspace - Bali
Kurator : Arif Bagus Prasetyo




Antonius Kho, White and Black 140 x 140 cm, mixed media on canvas 2009



Pameran seni rupa “Art[i]culation” menampilkan sepilihan lukisan karya para perupa yang memiliki reputasi terpuji. Mereka berasal dari berbagai generasi dan latar kultural-biografis. Tema dan corak karya mereka beragam. Para perupa tersebut dikenal aktif mewarnai panggung seni rupa Indonesia mutakhir.

Pameran ini dirancang untuk menyoroti sejumlah aspek yang menarik dari realitas seni rupa Indonesia kini. Seni rupa kontemporer Indonesia, sebagaimana tercermin dari lukisan-lukisan dalam pameran ini, menunjukkan aneka kecenderungan dan karakteristik. Para pelukis menyuarakan gagasan, rasa dan karsa mereka dengan wahana artistik pilihan masing-masing. Mereka mengeksplorasi imajinasi kreatif dengan berbagai ekspresi.

Namun demikian, kreativitas mereka tetap digerakkan oleh tanggapan dan sikap moral mengenai situasi politik, sosial dan budaya yang dilihat dan dihadapi. Proses kreatif mereka melibatkan pertemuan dan pergulatan kompleks antara faktor internal dan eksternal, rangsang objektif dan subjektif. Hasilnya adalah kreasi artistik yang mencerminkan intuisi personal dan sekaligus latar sosial, politis dan kultural para perupa tersebut. Mereka tidak hanya terpaku pada dunia seni rupa saja, tetapi juga peduli kepada peristiwa dan kecenderungan yang terjadi di tengah masyarakat dan budaya. Hubungan dengan realitas merupakan basis eksplorasi kreatif mereka.

“Art(i)culation” adalah suguhan pameran seni akhir tahun 2009 dari Hanna Artspace sekaligus menyambut harapan dari tahun baru 2010, dengan menampilkan karya-karya dari seniman 5 kota yang menjadi acuan kesenian di Indonesia, diantaranya: Sigit Santosa, Dyan Anggraeni, Gusti Alit, Lulus Santosa, Putu Sutawijaya, Wayan Cahya, Budi Ubrux, Entan Wiharso, Katirin, Nasirun, Ridi Winarno, Syahrizal Koto, Muhamad Rusnoto (Yogyakarta), Teguh Ostentrik, Neneng S. Ferrier, Yani Mariani Sastranegara, Ade Artie Tjakra (Jakarta), Tisna Sanjaya, Diyanto, Tiarma Sirait (Bandung), Ivan Haryanto, Djunaidi Kenyut, Anas Etan, Bilaningsih, Agung Tato (Surabaya), Antonius Kho, I Wayan Kun Adnyana, Nyoman Erawan ,Suklu, Sucipto Adi, Nyoman Sujana Kenyem, Sura Ardana, Bambang Adi Pramono, Nyoman Kardana, Diyano Purwadi, Nyoman Erawan and Ketut Teler (Bali).

Kami berharap event ini akan menjadi semacam happy ending 2009 untuk seluruh insan seni di Indonesia, sekaligus akan menjadi inspirator bagi pegelaran kesenian lainnya dikemudian hari.

Sukses untuk seni dan budaya Indonesia.

Arif B Prasetyo



Kun Adnyana, The Order Parlements, mix media on canvas, 2009


The “Art[i]culation” Art Exhibition presents the paintings by selected Indonesian contemporary artists. The artists participated in the exhibition belong to different generations of Indonesian artists who is actively coloring Indonesian art scene today.

Indonesian contemporary art, which is represented in this exhibition by paintings, shows various tendencies and characteristics. The painters articulate their ideas and concerns with any artistic tools they prefer to use. They explore their creative imagination in various mode of expression as different as the painstakingly realistic to the gestural abstraction. They raise loudly their engaging voices or submerge silently into the depth of their psyche.


Diyano Purwadi, sexy, 145 x 180 cm,acrylic drawing pen on canvas 2009

Nevertheless, their creativity is moved by moral responses and attitudes concerning social, political and cultural situations that are seen and faced. Their creative process involves complex encounters and struggles between internal and external factors, objective and subjective stimulus. The result is artistic creations that reflect the personal intuition of the artists as well as their geosocial, geopolitical and geocultural background.

“Art(i)culation” is an end year 2009 art exhibition from Hanna Artspace which by the same time dedicated to welcome prosperous hope of the coming year 2010, presenting works of artists from 5 major city who have been becoming art icon in Indonesia, namely: Sigit Santosa, Dyan Anggraeni, Gusti Alit, Lulus Santosa, Putu Sutawijaya, Wayan Cahya, Budi Ubrux, Entan Wiharso, Katirin, Nasirun, Ridi Winarno, Syahrizal Koto, Muhamad Rusnoto (Yogyakarta), Teguh Ostentrik, Neneng S. Ferrier, Yani Mariani Sastranegara, Ade Artie Tjakra (Jakarta), Tisna Sanjaya, Diyanto, Tiarma Sirait (Bandung), Ivan Haryanto, Djunaidi Kenyut, Anas Etan, Bilaningsih, Agung Tato (Surabaya), Antonius Kho, I Wayan Kun Adnyana,Nyoman Erawan, Suklu, Sucipto Adi, Nyoman Sujana Kenyem, Sura Ardana, Bambang Adi Pramono, Nyoman Kardana, Diyano Purwadi, Nyoman Erawan dan Ketut Teler (Bali).

After all, we expect that this exhibition could be a happy ending of 2009 to all Indonesian art communities and will bring up inspiration to the next coming art event.
Bravo…to Indonesian Art and Culture.

Arif B Prasetyo

Sabtu, 07 November 2009

KRONIK DUNIA BARU













KRONIK DUNIA BARU

Group Exhibition
Artist :Tatang BSp, Putu Gede Djaya, Made Somadita, Ketut Jaya (Kaprus)
Date : 15 – 28 November 2009
Venue : Hanna Artspace, Pengosekan, Ubud - Bali

Oleh Arif Bagus Prasetyo


SYAHDAN, modernitas menjanjikan Dunia Baru. Di dalam dunia itu, manusia dibayangkan sebagai pusat: subjek rasional yang merdeka untuk menentukan sendiri landasan nilai dan kriteria kehidupannya di dunia. Dunia Baru menawarkan humanisme universal yang mengakhiri kegelapan jahiliyah dengan cahaya benderang akal-budi (reason).
Melalui ilmu pengetahuan, akal-budi membebaskan manusia dari penjara mitos, wahyu, maupun mekanisme kekuatan alam yang menguasai Dunia Lama. Akal-budi mengangkat manusia jadi Tuan, subjek yang merdeka dan berkuasa, satu-satunya spesies unggul yang sepenuhnya mampu menentukan diri (self-determination) dan menegakkan diri (self-affirmation) di dunia. Di Dunia Baru, manusia, dengan segala kemampuan rasionalnya, menahbiskan dirinya sendiri menjadi aku-subjek yang sentral dalam pemecahan masalah dunia, subjek otonom yang mengukir sejarahnya sendiri dengan tinta emas di lembaran Kitab Semesta. Dalam wawasan humanisme-rasional Dunia Baru, rasionalitas dijadikan ukuran tunggal kebenaran yang akan mewujudkan mimpi utopis manusia sebagaimana dijanjikan modernitas.
Modernitas diklaim sebagai rasionalitas jalan sejarah yang melesat lurus, atas nama kemajuan, ke “surga impian” di masa depan: tanah kebebasan manusia dan kemanusiaan yang bebas. Inilah Dunia Baru yang hendak diraih melalui proyek emansipasi universal, proyek pembebasan manusia dari belenggu irasionalitas. Namun ironisnya, seiring perjalanan waktu, realitas justru menunjukkan bahwa proyek emansipasi universal itu ternyata prospeknya semakin suram.
Ketimbang mewujudkan momen “turunnya surga di bumi” sebagaimana yang dijanjikannya, Modernitas justru kian mengalami apa yang digambarkan Jean-Francois Lyotard sebagai situasi “defaillancy”: kegagalan Modernitas untuk memenuhi janjinya. Aneka kejahatan kemanusiaan, terorisme dan krisis ekonomi, contohnya, adalah narasi-narasi realitas yang terus-menerus menyangkal keabsahan narasi emansipasi universal Modernitas yang mendewakan rasio.
Modernitas menjanjikan Dunia Baru yang cerah kepada manusia, tapi di balik janji itu, ada begitu banyak risiko yang dapat menjerumuskan manusia ke neraka kenistaan dan kehancuran. Inilah paradoks Modernitas: paradoks antara rasional dan irasional, kemajuan dan pengorbanan, ilusi dan realitas. Sebagaimana dikatakan Marshall Berman, “Menjadi modern berarti menemukan diri kita dalam lingkungan yang menjanjikan pengembaraan, kekuasaan, kesenangan, pertumbuhan, transformasi diri kita dan dunia kita – dan bersamaan dengan itu, ancaman untuk menghancurkan semua yang kita miliki, semua yang kita tahu, semua kita.”
Paradoks modernitas digambarkan dengan bahasa parodi oleh Tatang BSp. Dilihat dari ciri-ciri luarnya, figur-figur dalam lukisan Tatang adalah sosok manusia modern yang terpelajar, dari kalangan kelas-menengah urban. Mereka berpenampilan rapi, necis, berjas dan berdasi. Namun ironisnya, manusia-manusia modern yang mestinya memuliakan rasionalitas itu justru berperilaku irasional. Tingkah-laku mereka begitu aneh, sulit dipahami, tak mencerminkan berfungsinya akal-waras. Sebagai manusia modern, mereka adalah warga Dunia Baru yang “menjanjikan pengembaraan, kekuasaan, kesenangan, pertumbuhan, transformasi”. Tapi pada kanvas Tatang, dunia mereka ternyata sebuah dunia absurd yang menebarkan irasionalitas, bahkan kegilaan.
Dengan nada humor yang penuh sentilan kritis, karya-karya Tatang meledek doktrin rasionalitas yang dijunjung tinggi-tinggi oleh manusia modern. Tatang bahkan terkesan seperti tak percaya lagi bahwa proses-proses kehidupan masyarakat modern berjalan lurus mengikuti garis rasio. Simbolisme Tatang menyarankan skeptisisme ini. Segala kesibukan yang digeluti para manusia modern di kanvas Tatang, seolah tak terhindarkan lagi, meluncur fatal ke situasi irasional yang tak bermakna: dagelan politik praktis (“Selamat Pagi”), sirkus liberalisme ekonomi (“Greetings from Indoneolib”), pasar malam masyarakat konsumen (“Negeri Etalase”).
Modernitas menjanjikan emansipasi, tapi pada kenyataannya, emansipasi seringkali hanya slogan yang menopengi praktik dominasi. Pada masa kolonial, paham humanisme-rasional universal dijadikan dalih oleh bangsa kulit putih untuk menjajah bangsa kulit berwarna yang dianggap biadab, liar, setara dengan binatang. Bangsa kulit berwarna yang dianggap inferior harus ditaklukkan dan dibina menjadi warga beradab Dunia Baru oleh bangsa kulit putih yang merasa superior.
Pada era kontemporer dewasa ini, penjajahan bangsa kulit putih terhadap bangsa kulit berwarna memang telah berakhir, tapi mitos superioritas kulit putih masih berlanjut. Kolonialisme fisik digantikan oleh kolonialisme kultural. Dengan supremasi politik dan ekonomi yang digenggamnya di panggung global, negara maju kerap “memaksakan” kriteria dan kepentingannya kepada negara berkembang, antara lain melalui politik-budaya yang didukung jaringan kapitalisme global. Bangsa kulit berwarna seolah baru sah menjadi warga Dunia Baru yang beradab jika mengadopsi selera, etika dan kemauan bangsa kulit putih. Dominasi inilah yang digugat oleh Putu Gede Djaya.
Dengan bahasa parodi bergaya komik, karya-karya mutakhir PG Djaya mempersoalkan praktik-praktik dominasi dan kekerasan terselubung yang berakar pada kecenderungan logosentrisme dalam tradisi filsafat metafisika Barat. Kecenderungan logosentrisme ini ditandai oleh beroperasinya logika oposisi biner: logika sosial, politik, ekonomi dan budaya yang dibangun oleh pasangan konsep yang berseberangan (pria/wanita, putih/hitam, Barat/Timur, modern/tradisional dst). Logika oposisi biner seringkali digunakan sebagai alat mempertahankan status quo kekuasaan. Dalam logika ini, konsep pertama dianggap sebagai pusat dan bernilai tinggi, sementara konsep kedua di seberangnya dipandang sebagai pinggiran dan bernilai rendah. Maka putih lebih bagus daripada hitam, pria lebih unggul daripada wanita, Barat lebih benar daripada Timur, modern lebih keren daripada tradisional dst.
Dalam lukisan “Haruskah”, PG Djaya mengkritik dominasi citra kecantikan wanita kulit putih terhadap wanita kulit hitam/berwarna. Figur wanita Bali yang bergumam “Haruskah aku pakai softlens untuk bisa maen film” menyentil prasangka kultural yang mengistimewakan ciri-ciri fisik wanita Barat (mata biru, kulit putih, rambut pirang) sebagai standar kecantikan universal. Sementara itu, lukisan “Ada Apa dengan Le Mayeur” menggugat dominasi ganda: dominasi pria terhadap wanita, sekaligus dominasi Barat terhadap Timur. Digambarkan figur Ni Polok, wanita Bali yang diperistri pelukis bule legendaris Le Mayeur, sedang memrotes keputusan suaminya yang melarangnya punya anak. Mayeur khawatir Polok akan kehilangan kecantikannya setelah melahirkan anak, sehingga tak bisa dipamerkan sebagai objek tontonan eksotis Timur kepada para turis Barat yang datang berkunjung.
Kisah ironis tentang Dunia Baru yang dijanjikan Modernitas, dituturkan secara simbolis oleh Made Somadita. Binatang-binatang dalam lukisan Somadita telah mengalami “emansipasi”, terbebas dari kegelapan rimba-belantara, dan menjadi warga sebuah Dunia Baru yang menyediakan status lebih tinggi. Para satwa itu mengenal bola, bahkan bisa bermain bola seperti layaknya manusia. Mereka dapat dibaca sebagai metafora tentang manusia modern yang beremansipasi dari kondisi biadab ke kondisi beradab. Namun demikian, mereka ternyata tak bisa lepas dari watak kebinatangan yang penuh kekerasan dan kebuasan. Taring, cakar dan tanduk yang tajam dan mematikan masih menjadi senjata utama untuk mengalahkan lawan atau pesaing. Fabel-fabel Somadita menyindir perilaku manusia modern penghuni Dunia Baru yang terperangkap oleh luapan hasratnya sendiri. Agresivitas mereka bukan didasari kebutuhan mempertahankan hidup, seperti margasatwa di hutan, melainkan didorong oleh gairah permainan, pencarian kesenangan dan kepuasan belaka.
Akhirnya, arus luapan hasrat yang menyapu dan menihilkan eksistensi manusia modern dilukiskan secara dramatis oleh Ketut Jaya. Dalam lukisan-lukisan Jaya, figur-figur tampak kehilangan bentuk, bercampur dengan katup-katup, pipa-pipa, tabung-tabung mirip moncong vacuum cleaner yang menyedot atau knalpot yang menyembur. Integritas manusia seakan porak-poranda diterjang gejolak energi purbawi yang meledak-ledak. Manusia bukan lagi pusat yang menerangi dunia dengan cahaya akal-budi, karena rasio telah ditelan oleh libido: lautan energi psikis yang memompa hasrat tanpa henti. Kanvas Jaya mementaskan ironi Dunia Baru di mana manusia takluk total di bawah kekuasaan hasrat dan tenggelam dalam setiap rangsangannya. Sebuah dunia reproduksi hasrat yang tak pernah terpuaskan dan tak pernah ada akhirnya.

Pengikut